Tulungagung, 22 Agustus 2025 — Tim peneliti dari Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi secara resmi menyerahkan buku kajian dengan judul Strategi Integrasi Geosite Tulungagung untuk Mendukung Pengembangan Kawasan Berkelanjutan kepada Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Tulungagung, penyerahan ini dilaksanakan di Kantor BRIDA, diwakili oleh Kepala Bidang Sosial Kependudukan, EKonomi dan Pembangunan, beserta peneliti dan staf. Buku kajian tersebut merupakan hasil riset mendalam yang memetakan potensi geosite di Tulungagung sekaligus merumuskan strategi pengembangan geosite. Lokus studi pengembangan geosite meliputi site Lapisan Berfosil Pantai Sanggar dan Pantai Ngalur, Goa Berfosil Tenggar, Komplek Goa Geoarkeologi Wajak, Gunung Api Purba Budeg, Teras Pantai Kedung Tumpang, Ketidakselarasan Winong Puncak Jowin, dan Telaga Buret. Pengembangan kawasan geosite di Tulungagung harus diarahkan pada model pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan, sesuai dengan prinsip Triple Bottom Line. Setiap geosite harus diposisikan tidak hanya sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai laboratorium alam, pusat edukasi, dan simbol identitas budaya daerah. Diperlukan pendekatan kolaboratif melalui model Pentahelix, di mana kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas masyarakat, dan media harus diperkuat. Kolaborasi ini memungkinkan terbentuknya ekosistem pengelolaan geosite yang partisipatif, transparan, dan berkelanjutan.